TEORI-TEORI BELAJAR (2)

Setelah mempelajari bagian ini anda diharapkan dapat:
1. Menjelaskan teori belajar Ausubel
2. Memberikan contoh penerapan teori belajar Ausubel dalam belajar Kimia
3. Membandingkan teori belajar Gagne dan Ausubel

TEORI BELAJAR AUSUBEL

David Ausubel
David Ausubel

Teori belajar Ausubel terkait dengan beberapa macam belajar. Terdapat empat macam belajar menurut Ausubel dengan dua dimensi yang terpisah. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi (materi pelajaran) itu disajikan pada siswa yaitu belajar penerimaan (reception learning) dan belajar penemuan (discovery learning). Dimensi kedua ialah menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada, dalam kaitannya dengan ini terdapat belajar hafalan (rote learning) dan belajar bermakna (meaningful learning).

Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan pada pelajar baik dengan bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final, maupun dalam bentuk belajar penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh informasi itu. Dalam tingkat kedua, siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi itu pada pengetahuan yang telah dimilikinya, dalam hal ini terjadi belajar bermakna. Siswa juga dapat mencoba-coba menghafalkan informasi baru tanpa menghubungkannya pada konsep-konsep yang telah ada pada struktur kognitifnya, dalam hal ini terjadi belajar hafalan.

Kedua dimensi tidak menunjukkan dikotomi sederhana, melainkan merupakan suatu kontinuum seperti diperlihatkan pada gambar berikut:

Dimensi Belajar menurut Ausubel
Dimensi Belajar menurut Ausubel

Sepanjang kontinuum mendatar terdapat dari kiri ke kanan berkurangnya belajar penerimaan dan bertambahnya belajar penemuan, sedangkan sepanjang kontinuum vertikal terdapat dari bawah ke atas berkurangnya belajar hafalan dan bertambahnya belajar bermakna.

Banyak ahli pendidikan menyamakan belajar penerimaan dengan belajar hafalan sebab belajar bermakna hanya terjadi bila si pelajar menemukan sendiri pengetahuan. Namun berdasarkan gambar di atas belajar penerimaanpun dapat dibuat bermakna, yaitu dengan cara menjelaskan hubungan antara konsep-konsep. Sementara belajar penemuan rendah kebermaknaannya dan merupakan belajar hafalan bila memecahkan suatu masalah hanya dengan coba-coba, seperti menebak suatu teka-teki. Belajar penemuan yang sangat bermakna hanyalah penelitian yang bersifat ilmiah.

Belajar bermakna

Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Informasi disimpan di daerah-daerah tertentu dalam otak. Banyak sel otak yang terlibat dalam penyimpanan pengetahuan itu. Dengan berlangsungnya belajar, dihasilkan perubahan-perubahan dalam sel-sel otak. Dalam belajar bermakna informasi baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer relevan yang telah ada dalam struktur kognitif.

Bila diinginkan belajar bermakna seperti yang dikemukakan Ausubel, dan bila belajar bermakna memerlukan konsep-konsep relevan dalam struktur kognitif yang disebut subsumer, pertanyaannya adalah :” dari mana datangnya subsumer?”

Pada anak-anak pembentukan konsep merupakan proses utama untuk memperoleh konsep-konsep. Pembentukan konsep adalah semacam belajar penemuan yang menyangkut baik pembentukan hipotesis dan pengujian hipotesis, maupun pembentukan generalisasi dari hal-hal yang khusus. Misalnya dengan berkali-kali dihadapkan pada benda yang disebut kursi, maka lambat laun anak akan menemukan kriteria bagi konsep kursi. Waktu usia masuk sekolah tiba, kebanyakan anak telah mempunyai kerangka konsep yang mengizinkan terjadinya belajar bermakna.

Belajar hafalan

Belajar hafalan terjadi jika dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep-konsep relevan atau subsumer-subsumer yang relevan. Dalam belajar hafalan informasi baru tidak dapat diasimilasikan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Dengan demikian sama sekali tidak terjadi interaksi antara informasi baru dengan informasi yang telah disimpan dalam struktur kognitif.

Beberapa Kebaikan Dari Belajar Bermakna

Menurut Ausubel belajar bermakna memiliki beberapa kebaikan sebagai berikut:
1. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih tahan lama
2. Informasi yang tersubsumpsi memudahkan proses belajar berikutnya tentang materi yang mirip.
3. Bila unsur yang tersubsumpsi tidak dapat lagi dipanggil dari memori, jadi sudah dilupakan, menurut Ausubel terjadi subsumpsi obliteratif (subsumpsi yang telah rusak)

Menerapkan Teori Ausubel dalam Pembelajaran
1) Diferensiasi Progressif

Menurut Ausubel dalam satu seri pelajaran siswa hendaknya diperkenalkan terlebih dahulu pada konsep-konsep yang paling umum atau inklusif, kemudian berangsur-angsur menjadi konsep-konsep yang lebih khusus, dengan kata lain dari umum ke khusus. Proses penyusunan semacam ini disebut diferensiasi progresif.

Suatu contoh hierarki konseptual yang berdasarkan Diferensiasi Progressif seperti digambarkan pada gambar berikut

Kegiatan 1:
Berikan satu contoh penerapan differensiasi progressif dalam pembelajaran konsep-konsep Kimia.

2) Rekonsiliasi Integratif

Menurut konsep rekonsiliasi integratif dalam mengajar, konsep-konsep perlu diintegrasikan dan disesuaikan dengan konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Dengan kata lain guru hendaknya menunjukkan pada siswa bagaimana konsep dan prinsip tersebut saling berkaitan.

Sebagai contoh hubungan rekonsiliasi integratif dapat digambarkan sebagai berikut:

Kegiatan 2:
Berikan satu contoh penerapan rekkonsiliasi integratif dalam pembelajaran konsep-konsep Kimia.

3) Peta Konsep

Peta konsep memperlihatkan bagaimana konsep-konsep saling dikaitkan. Untuk menyusun suatu peta konsep dibutuhkan konsep-konsep atau kejadian-kejadian dan kata penghubung.

Peta konsep memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pemetaan konsep ialah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan susunan atau organisasi suatu bidang studi.
2. Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu disiplin.
3. Berkaitan dengan bobot, tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif daripada yang lain. Jadi konsep yang paling inklusif terdapat di puncak, lalu menurun hingga konsep yang paling khusus atau contoh-contoh.
4. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep itu.

Contoh peta konsep:

Concept map
Concept map

Karena belajar bermakna lebih mudah berlangsung bila konsep-konsep baru dikaitkan pada konsep yang lebih inklusif, maka peta konsep harus disusun secara hirarki. Ini berarti bahwa konsep yang lebih inklusif ada di puncak peta. Makin ke bawah konsep-konsep diurutkan makin menjadi lebih khusus.

Untuk menyusun suatu peta konsep ada beberapa langkah yang harus diikuti:
1. Pilihlah suatu bacaan dari buku pelajaran
2. Tentukan konsep-konsep yang relevan
3. Urutkan konsep-konsep itu dari yang paling inklusif ke paling tidak inklusif atau contoh-contoh.
4. Susunlah konsep-konsep itu di kertas
5. Hubungkan konsep-konsep itu dengan kata-kata penghubung.

Berikut ini adalah contoh bagaimana mengaitkan beberapa konsep, meletakkannya menurut urutan inklusif-non inklusif dan menghubungkannya dengan kata-kata penghubung hingga menjadi suatu peta konsep.

The Making Process of Concept Mapp
The Making Process of Concept Mapp

Kegiatan 3:

Buatkan satu peta konsep dalam kimia. Buat sebanyak mungkin link antara satu konsep dengan konsep yang lain. Bandingkan dan diskusikan peta konsep anda dengan peta konsep teman2 anda yang lain.

TEORI-TEORI BELAJAR (1)

Setelah mempelajari bagian ini anda diharapkan dapat:
1. Menjelaskan kegunaan teori belajar bagi guru.
2. Menjelaskan teori belajar Gagne

KEGUNAAN TEORI BELAJAR

ag00013_1

Jika mempelajari tentang teori belajar, pertanyaan pertama yang mungkin timbul dalam pikiran anda adalah “Bagaimana orang memperoleh pengetahuan tentang apa itu belajar?”

Pengetahuan tentang belajar lazim diperoleh dengan cara mengamati tingkah laku seseorang atau sekelompok orang yang sedang melakukan suatu kegiatan belajar. Pengamatan ini dilakukan berulang kali pada kondisi tertentu, sampai dihasilkan prinsip-prinsip yang dapat diuji. Prinsip-prinsip ini melahirkan sekumpulan pengetahuan tentang belajar yang terus meningkat baik kedalamannya maupun ketelitiannya. Dari prinsip-prinsip yang diperoleh dengan cara demikian dapat disusun suatu teori belajar.

Jadi suatu teori belajar lahir dengan maksud untuk menjelaskan beberapa fakta khusus yang diamati secara terpisah, dengan jalan menghubungkan fakta-fakta itu menjadi suatu model konseptual. Model itu sendiri tidak dapat diamati, tetapi model itu dapat menghasilkan sejumlah konsekuensi yang dapat diamati. Dengan diujinya konsekuensi-konsekuensi ini, biasanya selama beberapa tahun, maka teori belajar itu makin dapat diterima, dan lebih banyak digunakan untuk menjelaskan fakta-fakta yang relevan.

ag00029_

Selanjutnya pertanyaan kedua yang mungkin timbul adalah “Apa kegunaan pengetahuan tentang teori belajar bagi seorang guru, atau bantuan apakah yang dapat diberikan teori belajar pada guru dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari?”

Dalam meninjau kegunaan pengetahuan tentang teori belajar bagi seorang guru, patut kita ketahui bahwa mengetahui suatu teori belajar tidak membawa guru pada penggunaan prosedur-prosedur mengajar yang telah dibakukan. Demikian pula suatu teori belajar tidak memberikan satu prosedur mengajar yang paling tepat yang dapat diterapkan dalam semua situasi mengajar.

Situasi mengajar dan belajar sangat beragam, dengan mengetahui teori belajar seorang guru yang sedang menghadapi permasalahan baik dalam hal menyusun suatu perencanaan pengajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, atau mengadakan penilaian hasil belajar, akan memiliki pengetahuan tentang berbagai cara memecahkan masalah-masalah itu.

Dengan kata lain guru memiliki berbagai alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya. Jadi meskipun teori belajar tidak dapat diharapkan menentukan prosedur langkah demi langkah, namun ia dapat itu memberikan arah, pilihan-pilihan dan prioritas-prioritas bagi guru dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari.

Kegiatan 1

Dari penjelasan di atas, coba diskusikan suatu contoh masalah yang dhadapi guru dalam pembelajaran, dimana pemahaman guru akan teori belajar memegang peranan dalam mengatasi masalah tersebut.

TEORI BELAJAR GAGNE

Robert M. Gagne 1916-2002
Robert M. Gagne 1916-2002

Menurut Gagne, belajar merupakan suatu proses yang memungkinkan seseorang untuk mengubah tingkah lakunya cukup cepat, dan perubahan itu bersifat relatif tetap, sehingga perubahan yang serupa tidak perlu terjadi berulang kali setiap menghadapi situasi baru.

Teori belajar yang menganggap belajar sebagai suatu proses, seperti yang dikemukakan Gagne, bertitik tolak dari suatu analogi antara manusia dan komputer. Model yang disebut Model Pemrosesan Informasi (Information Processing Model) proses belajar dianggap sebagai transformasi “input” menjadi “output” seperti yang lazim pada sebuah komputer.

MOdel tersebut diilustrasikan seperti pada gambar berikut:

Information Processing Model
Information Processing Model

Model ini menunjukkan aliran informasi dari input ke output. Rangsangan atau stimulus dari lingkungan (environment) mempengaruhi alat-alat indera, yaitu penerima (receptor), dan masuk ke dalam sistem saraf melalui register penginderaan (sensory register). Di sini informasi itu diberi kode artinya informasi itu diberi suatu bentuk yang masih mewakili informasi aslinya. Informasi ini berada dalam bentuk ini hanya selama waktu yang sangat singkat (jauh lebih singkat dari sate detik). Melalui persepsi selektif, hanya bagian-bagian tertentu dari informasi yang diperhatikan. Bagian-bagian itu dimasukkan dalam memory jangka pendek (short term memory), dan disimpan selama waktu singkat sekitar beberapa detik. Tetapi informasi dapat diolah oleh internal rehearsal dan disimpan dalam memori jangka pendek untuk waktu yang lebih lama. Rehearsal ini dapat juga mempunyai peranan lain, dimana kalau informasi itu perlu diingat, maka informasi itu sekali lagi ditransformasikan dan masuk ke dalam memori jangka panjang untuk disimpan hingga kemudian dipanggil kembali. Banyak teori yang menganggap bahwa penyimpanan dalam memori jangka panjang ini bersifat tetap, dan kegagalan di kemudian hari untuk memanggil kembali informasi itu diakibatkan karena kesukaran dalam “menemukan kembali” informasi tersebut.

Informasi dari memori jangka pendek atau memori jangka panjang dikeluarkan kembali melalui suatu generator respon (respon generator), yang berfungsi mengubah informasi menjadi tindakan. Pesan-pesan dari respon generator mengaktifkan efektor (otot-otot), menghasilkan penampilan yang mempengaruhi lingkungan. Penampilan itulah yang dapat dijadikan pertanda bahwa “informasi telah diproses” dan seseorang telah belajar seperti yang diharapkan.

Model ini juga menunjukkan bagaimana pengendalian internal dari aliran informasi oleh “executive control” dan “expectancies”. Executive Control yang terdiri atas strategi-strategi kognitif dan expectancies mengaktifkan dan memodifikasi aliran informasi.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa model belajar seperti yang digambarkan pada gambar 1 mencakup dua aspek, yaitu satu aspek tentang aliran informasi, dan aspek lain tentang pengontrolan aliran informasi itu. Kedua struktur pengontrolan ini sangat berpengaruh terhadap cara belajar seseorang.

Fase dan Proses Belajar

Gagne mengemukakan sembilan fase dalam satu tindakan belajar yang berhubungan dengan proses-proses internal dalam model belajar yang dikemukakannya. Kesembilan fase tersebut masing-masing: reception- expectancy – retrieval – selective perception – semantic encoding – responding – reinforcement – retrieval – transfer.

Fase Belajar menurut Gagne
Fase Belajar menurut Gagne

Satu tindakan belajar merupakan satu seri kejadian yang meliputi sembilan fase tersebut. Proses yang terjadi pada kesembilan fase tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Belajar diawali dengan penerimaan terhadap informasi yang akan diberikan (reception). Agar belajar dapat berlangsung, biasanya diperlukan adanya suatu informasi yang dapat membangkitkan harapan (expectancy), ini dilakukan dengan memberitahukan tujuan pembelajaran. Selanjutnya pelajaran dimulai dengan menstimulasi ingatan siswa terhadap bagian-bagian pelajaran yang terkait dengan pengetahuan sebelumnya (retrieval). Pada saat pelajaran berlangsung individu biasanya akan memperhatikan bagian-bagian yang relevan dari seluruh situasi stimulus dan melakukan persepsi selektif dari bagian-bagian yang relevan itu (selective perception). Setelah itu informasi diberi kode (semantic encoding) dan disimpan dalam memori jangka panjang. Selanjutnya, dengan memberikan respons (responding) individu itu mendapatkan kesempatan untuk memperoleh umpan balik yang disebut proses penguatan (reinforcement). Apa yang telah disimpan itu harus dimungkinkan untuk dipanggil kembali atau diingat (retrieval) dan dapat digeneralisasikan atau diterapkan (transfer) pada situasi baru.

Kegiatan 2:
Berikan satu contoh proses belajar pada seorang yang sedang belajar kimia dengan melibatkan kesembilan fase di atas.

Hasil-hasil Belajar

Untuk mengetahui kemampuan-kemampuan apa yang diperoleh siswa sesudah belajar tentang sesuatu, Gagne merumuskan lima macam hasil belajar yang disebut dengan Taksonomi Gagne. Tiga diantaranya bersifat kognitif, yang keempat afektif dan kelima psikomotorik.

Gagnes Taxonomy
Gagne's Taxonomy

Taksonomi Gagne adalah sebagai berikut:

1) Informasi verbal: yaitu informasi yang diperoleh dengan mendengar kata-kata yang diucapkan orang, dari membaca, dari radio atau televisi. Informasi tertuju pada mengetahui apa, yang meliputi nama-nama fakta-fakta , prinsip-prinsip dan generalisasi.

2) Keterampilan-keterampilan intelektual; tertuju pada mengetahui bagaimana yang meliputi:
a. Diskriminasi : bagaimana membedakan (diskriminasi)
b. Konsep konkret: bagaimana menunjukkan suatu konsep konkret
c. Konsep Terdefinisi: bagaimana mendefinisikan suatu konsep
d. Aturan-aturan: bagaimana melakukan sesuatu sesuai dengan aturan

3) Strategi-strategi Kognitif; kemampuan internal yang terorganisasi. Berbeda dengan keterampilan intelektual yang diarahkan terhadap aspek-aspek lingkungan atau eksternal, strategi kognitif mengendalikan tingkah laku anak dalam menghadapi lingkungannya atau aspek internal. Seorang anak menggunakan strategi kognitif dalam memikirkan tentang apa yang telah dipelajarinya dan dalam memecahkan masalah secara kreatif.

4) Sikap-sikap (Attitudes) ; Sikap merupakan pembawaan yang dapat dipelajari dan dapat mempengaruhi tingkah laku kita terhadap benda, kejadian atau makhluk hidup lain. Dalam belajar kimia sikap ini dapat dipelajari dalam kegiatan laboratorium. Siswa diajarkan bagaimana harus bersikap ketika hendak memanaskan zat kimia dalam tabung reaksi, yaitu jangan menghadapkan mulut tabung ke arah temannya, agar temannya jangan sampai kena percikan zat kimia yang dipanaskan.

5) Keterampilan-keterampilan motorik; Keterampilan motorik tidak hanya mencakup kegiatan fisik, tetapi juga kegiatan motorik yang digabung dengan keterampilan intelektual, seperti berbicara, menulis, menggunakan alat-alat laboratorium dan lain-lain.

Menerapkan Teori Gagne dalam Mengajar Ilmu Kimia

Bagaimana sebaiknya mengajar menurut Gagne? Model mengajar Gagne meliputi delapan langkah yang disebut kejadian-kejadian instruksional.

1. Mengaktifkan motivasi

“Expectancy” sebagai fase awal dari kegiatan belajar dapat dianggap sebagai motivasi khusus dari pelajar untuk mencapai tujuan belajar. Expectancy ini dapat dipengaruhi sehingga mengaktifkan motif-motif belajar siswa, misalnya motif ingin tahu atau motif ingin mencapai sesuatu. Dalam kimia guru dapat melakukan hal ini, misalnya dengan mengemukakan suatu masalah yang menyangkut kimia pada permulaan pelajaran kimia. Masalah ini merangsang keingintahuan siswa, dan menantang motif kemampuan atau motif ingin mencapai siswa.

2. Memberi tahu siswa tujuan-tujuan belajar

Menurut Gagne kejadian instruksional kedua sangat erat hubungannya dengan yang pertama. Dengan maksud agar siswa memperoleh harapan yang dapat diandalkan secara optimal pada kontrol internal dari aliran informasi, maka guru sebaiknya memberitahu siswa secara komprehensif atau merangsang apa yang dapat dicapainya setelah belajar.

3. Mengarahkan perhatian

Gagne mengemukakan dua bentuk perhatian. Yang pertama berfungsi untuk membuat siswa siap menerima stimuli. Dalam pelajaran kimia hal ini dapat dilakukan dengan cara guru berkata “Perhatikanlah perubahan warna yang terjadi” pada waktu mengadakan demonstrasi tentang sifat asam basa. Bentuk kedua dari perhatian disebut persepsi selektif, yaitu dengan cara memilih informasi yang mana yang akan diteruskan ke memori jangka pendek.Dalam mengajar, seleksi dapat ditolong guru dengan cara mengeraskan atau mengucapkan secara lambat suatu kata atau kalimat yang dianggap penting, atau menggarisbawahi suatu kata atau kalimat di papan tulis.

4. Merangsang ingatan tentang pelajaran yang telah lampau

Pemberian kode pada informasi yang berasal dari memori jangka pendek yang disimpan dalam memori jangka panjang menurut Gagne merupakan bagian yang paling kritis dalam proses belajar. Guru dapat menolong siswa dalam mengingat atau memanggil kembali pengetahuan yang disimpan dalam memori jangka panjang dengan cara mengajukan pertanyaan seperti berikut: ”Masih ingatkan kamu apa yang dimaksud dengan konsentrasi suatu zat?”

5. Menyediakan bimbingan belajar

Untuk memperlancar masuknya informasi ke memori jangka panjang diperlukan bimbingan langsung untuk pemberian kode pada informasi. Dalam pelajaran kimia misalnya, bila guru akan mengajarkan berbagai macam unsur, mulailah dengan unsur-unsur yang dekat dengan siswa misalnya besi, emas, oksigen, yang diperkirakan sudah dikenal siswa. Bila yang akan diajarkan adalah sebuah aturan, maka siswa seharusnya sudah memahami dulu konsep-konsep yang merupakan komponen pembentuk aturan itu.

6. Meningkatkan retensi

Retensi atau bertahannya materi yang dipelajari (tidak mudah lupa) dapat diusahakan oleh guru atau siswa sendiri, baik dengan cara mengulangi pelajaran, atau dengan cara membuat “jembatan keledai”. Dengan cara ini materi pelajaran disusun sedemikian rupa sehingga mudah diingat.

7. Membantu transfer belajar

Tujuan transfer belajar ialah menerapkan apa yang telah dipelajari pada situasi baru. Ini berarti bahwa apa yang telah dipelajari itu mesti dibuat umum sifatnya. Cara yang lazim adalah melalui tugas pemecahan masalah dan disusi kelompok. Dalam pelajaran kimia misalnya dengan merencanakan bagaimana menanggulangi masalah pencemaran lingkungan, melalui konsep-konsep yang telah mereka pelajari sebelumnya.

8. Mengeluarkan perbuatan dan memberikan umpan balik

Hasil belajar perlu diperlihatkan melalui suatu cara, agar guru dan siswa itu sendiri mengetahui apakah tujuan belajar telah tercapai. Untuk itu sebaiknya guru tidak menunggu hingga seluruh pelajaran selesai. Guru sebaiknya memberi kesempatan sedini mungkin pada siswa untuk memperlihatkan hasil belajar mereka, agar dapat diberi umpan balik. Cara-cara yang dapat digunakan misalnya melalui pemberian tes atau dengan mengamati perilaku siswa. Umpan balik, bila bersifat positif, merupakan suatu tanda bahwa siswa telah mencapai tujuan belajar, sehingga harapan atau expectancy yang muncul pada permulaan tindakan belajar telah terpenuhi. Menurut Gagne, dalam hal ini umpan balik menghasilkan penguatan (reinforcement).

Media Pendidikan Kimia

MEDIA PENDIDIKAN DAN PROSES BELAJAR MENGAJAR
PENDAHULUAN

Setelah mempelajari chapter ini anda diharapkan dapat:
1. Menjelaskan pengertian media pembelajaran
2. Menjelaskan pentingnya peranan media pendidikan dalam proses belajar
mengajar.
3. Mengklasifikasikan berbagai jenis media pendidikan
4. Menjelaskan karakteristik media pendidikan
5. Memberikan contoh masing-masing jenis media yang relevan dengan
pembelajaran kimia

I. Pengertian, Fungsi dan Manfaat Media Pendidikan
Proses belajar mengajar adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Adapun pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum. Sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan produser media; salurannya berupa media pendidikan dan penerima pesannya adalah siswa dan juga guru.

Ada kalanya pesan yang akan disampaikan berhasil diterima siswa, ada kalanya tidak. Sebagai contoh guru menyampaikan informasi tentang A, dari beberapa siswa hanya satu siswa yang tepat dalam menafsirkannya, yang lainnya gagal.
Untuk mengatasinya diperlukan sumber belajar yang dapat membantu menyalurkan pesan, yaitu media pembelajaran.

Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar dapat terjadi.
Sebagai sarana komunikasi dalam pembelajaran, media instruksional edukatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Identik dengan alat peraga langsung dan tidak langsung
2. Digunakan dalam proses komunikasi instruksional
3. Memiliki muatan normatif bagi kepentingan pendidikan
4. Erat kaitannya dengan metode mengajar khususnya maupun komponen-komponen sistem instruksional lainnya.
Media juga identik dengan alat peraga, namun dalam beberapa hal tidak sama persis.
Dapatkah anda menunjukkan dimana letak perbedaannya?

Sebagai alat bantu, media instruksional edukatif mempunyai fungsi yang cukup berarti dalam proses belajar mengajar, yaitu :
• Memperjelas informasi pada waktu tatap muka dalam PBM
• Mendorong motivasi belajar
• Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyampaian materi
• Menambah variasi dalam menyajikan materi
• Menambah pengertian nyata tentang suatu pengetahuan
• Mencegah terjadinya verbalisme
• Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu
• Mendorong terjadinya interaksi langsung antara peserta didik dengan guru,
peserta didik dengan peserta didik serta peserta didik dengan lingkungannya
• Mudah dicerna dan tahan lama dalam menyerap informasi

Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa jika digunakan secara kontinyu media pengajaran dapat mempertinggi hasil belajar siswa.

Coba diskusikan dengan teman satu kelompok anda beberapa alasan mengapa penggunaan media dapat mempertinggi proses belajar siswa. Bandingkan hasil diskusi kelompok anda dengan kelompok lain.

komik3